• Beranda
  • Kamar
    • Kamar Fiksi
    • Kamar Non-fiksi
  • Balkon
    • Ruang Santai
    • Ruang Pertemuan
    • Ruang Tokoh
  • Perpustakaan
    • Rak Sastra
    • Rak Saintek
    • Rak Agama
    • Rak Humaniora
  • Dapur
    • Tempat Masak
    • Wastafel
    • Rak Piring
    • Meja Makan
    • Ruang Pribadi
    • Musholla
Pinterest Twitter Intagram Facebook

Ketika Santri Bersastra

"sebuah upaya menerjemahkan cinta Tuhan melalui serangkaian kata-kata"

Sebuah resensi buku "Memilih Jomblo"
oleh : Choirul Anam



Judul buku : Memilih Jomblo: Kisah Para Intelektual Muslim yang Berkarya Hingga Akhir Hayat
Pengarang : KH. Hussein Muhammad
Tebal : xviii + 158 hlm: 14 x 21 cm
Tahun terbit : 2015
Cetakan ke : 1
ISBN : 978-602-71777-5-8

Bagi sebagian orang, menjadi jomblo bukanlah suatu hal yang menarik. Risih, malu, serba salah, serta aneh, hal itu bisa saja terjadi apabila kita mendengar orang lain mengatai semacam itu. Jomblo, julukan yang melekat pada pria ataupun wanita yang tidak punya pasangan dan kerap menimbulkan rasa tidak nyaman takala kita mendengarnya. Bahkan sebisa mungkin julukan tersebut jangan sampai melekat pada diri kita, terutama bagi para wanita.

Tapi tidak untuk buku “Memilih Jomblo” karya KH. Hussein Muhammad ini, bukanya konyol dan memalukan, sosok Jomblo dalam setiap kisah yang digambarkan terasa heroik dan penuh wibawa. Kematian tokoh-tokoh yang diceritakan dalam setiap penggalan judulnya, memberikan inspirasi bagi para pembaca. Meskipun hingga akhir hayat mereka, mereka masih hidup tanpa pasangan alias membujang.

Buku ini diawali oleh riwayat sang sufi perempuan, Robi’ah Al-Adawiyah, yang memilih untuk tidak menikah karena begitu mencintai Tuhannya. Rabi’ah adalah perempuan cantik bersuara merdu yang karena kemiskinan keluarganya, ia mencari pekerjaan di kota Basrah dan akhirnya dijual kepada pemilik tempat hiburan malam. Namun karena ketekunan Rabi’ah dalam beribadah dan bermunajat kepada Allah, maka pada suatu fajar yang merekah ia dibebaskan. Hingga jadilah ia seorang Abidah pengabdi kepada Tuhan.

Selain Robi’ah, perempuan cantik yang namanya sering disebut-sebut oleh Sufi Falsafi adalah Layla binti Mulawwih, kekasih Qais Al-majnun. Siapa yang tidak kenal cerita cinta legendaris Layla Majnun yang tersohor itu. Dalam buku ini, K Hussein menempatkan kisah Layla yang akhirnya meninggal dalam keadaan membujang pada pamungkas buku. Layla dinisbatkan sebagai simbol sang Kekasih serta Keindahan, sementara Qais Al-majnun sebagai simbol para pencari, para pengembara, para pecinta dan para perindu. Mereka terpisah karena tradisi, Qais terasing di hutan rimba sementara Layla terpenjara di rumahnya sendiri.

Diluar dari dua kisah legendaris tersebut, K Hussein juga berhasil mengkliping 21 tokoh intelektual dunia yang memilih untuk tidak menikah hingga akhir hayatnya. Diantara tokoh-tokohnya ada nama-nama Ulama masyhur seperti Al-Thabari, Imam Zamakhsyari, Ibnu Taimiyah, Jamaluddin Al-Afghani, Sayyid Ahmad Badawi, Sayyed Quthb, dan masih banyak lagi.

Ambillah contoh sebuah kisah yang dituturkan penulis dalam buku itu, Abu Al-‘Ala Al-ma’ari. Dalam riwayatnya, Al-ma’ari secara terang-terangan menolak menikah dengan alasan kehidupan dunia terlalu banyak memberi kerusakan dan penderitaan. Menikah serta memiliki keturunan menurutnya adalah sebuah tindak kejahatan, anak-anak yang dilahirkan akan menjadi korban sosial. Bahkan ia menyesal karena sempat dilahirkan ayahnya di dunia dan berwasiat kepada para sahabat-sahabatnya untuk tidak menikah atau memiliki keturunan (hal.41).

Kita akan dibuat tercengang membaca riwayat tokoh demi tokoh dalam buku tersebut. Bagaimana tidak, tokoh yang diceritakan selalu memiliki karya berjibun yang mustahil dilakukan oleh pribadi zaman sekarang. Dalam setiap babnya pula, K Hussein menyelipkan alasan mengapa para tokoh tersebut memilih untuk tidak menikah. Diantaranya ada yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk agama, ilmu pengetahuan, humanisme atau sosial kemasyarakatan. Menurut mereka, menikah hanya akan mengurangi kesempatan untuk bededikasi terhadap intelektualisme. Sebab konsekuensi dari menikah adalah memiliki keluarga dan anak sehingga harus ada tanggungjawab untuk merawatnya.

Terlepas dari alasan kenapa para tokoh yang tertera dalam buku tersebut tidak menikah, K Hussein juga tidak ketinggalan mengulas biografi tokoh-tokoh tersebut semasa hidupnya. Inilah yang menjadi nilai tambah tersendiri bagi buku Memilih Jomblo karyanya. Bahasanya yang sederhana, gaya bahasa yang ringan, dan struktur penyusunan yang sistematis membuat buku kumpulan biografi ini menjadi mudah untuk dipahami semua kalangan. Daya tarik kuat terletak pada pemilihan judulnya yang kontroversial: Memilih Jomblo. Namun jika lihat dari segi kontennya, Memilih Jomblo serasa kurang bumbu analisis sehingga menjadikan kumpulan biografi yang seharusnya serius ini terasa begitu populer. Namun sekali lagi, alasan tersbeut pula yang mmebuat buku Memilih Jomblo ini patut untuk dimiki sebagai bahan memperluas wawasan pembaca.


Choirul Anam

Belajar menulis di Pesantren Kreatif Baitul Kilmah,
Kasongan Permai, Yogyakarta.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Sebuah Resensi Novel "Tuhan Maaf Engkau Kumadu"

oleh : Choirul Anam





Judul Buku : Tuhan Maaf Engkau Ku Madu
Penulis : Aguk Irawan Mn
Penerbit : Glosaria Media
Tahun Terbit : 2013
Isi : 392 Hal + Xxii: 12 X 19 Cm
Peresensi : Choirul Anam


Allah-ku, duhai Allah, kekasih hatiku, saat aku sendiri menikmati rasa cinta, maafkan cintaku pada-Mu, mesti kubagi satu untuk-Mu, satu lagiu untuk nisaku. Cinta membeku dan mencair dalam takdir-Mu, o, Allah-ku, maafkan aku, maafkan tauhidku, apakah aku kufur, bila malam ini Kau kumadu? Apakah aku salah, bila cintaku pada hamba lebih? Tapi, andai kau tak beri aku cinta sebesar ini, tentu, tentu saja aku tak akan menduakan-mu, karena itu, apa aku salah menggenggam pemberian-Mu, dan melambungkan rahasia alif lammim-Mu? (hal 163).

Demikianlah sepenggal puisi yang ditulis Ridho, tokoh utama dalam novel ini takala dia dilanda kebimbangan yang amat sangat. Dalam perjalanan hidupnya menuntut ilmu sekaligus bekerja di bumi para nabi- Mesir, dia dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa ia selalu mengalami kebuntuan tentang persoalan mencari pendamping hidup. Namun kejadian berubah ketika isyarat-isyarat muncul dan memaksa dirinya untuk mencintai seorang gadis yang teramat sempurna bagi seorang lelaki seperti Ridho.

Kisah dalam novel ini bermula ketika ridho beserta rombongan Nadi Wafidin melakukan tour ke Luxor, Aswan, dan Abou simbel. Dengan bahasa yang lugas dan mudah difahami kita akan dibawa menyelami mesir kuno yang bersejarah dan menikmati suasana kota Aswan dan keindahan sungai Nil. Dialog-dialog ringan antara Ridho dan irwan-sahabatnya selalu memunculkan humor dan kesan yang menggelitik. Apalagi ketika Ridho harus menghadapi tingkah konyol sahabatnya itu, terhadap mahasiswi yang tanpa sadar telah mengukir tanda-tanda pada dirinya yang dia sebut sebagai “legenda pribadi”.

Adalah Nisa, Eva Ratu Nisa yang memberikan banyak penanda bagi ridho, terutama mimpi-mimpinya yang menguatkan tekat ridho bahwa dia-Nisa-lah pendamping hidupnya. Walaupun merasa tidak pantas, perempuan yang terlalu sempurna dimata ridho, namun akhirnya Ridho membulatkan niatnya untuk mendapatkannya. Ridho melakukan berbagai cara untuk menyampaikan maksudnya, yaitu meminang Nisa. Namun ternyata kata Gus Nas, seorang Tokoh yang pernah menjadi Guru Nisa semasa nyantri di pesantren, memberitahukan kenyataan pahit bahwa ternyata Nisa telah memilki tambatan hati lain. Betapa hancurnya hati Ridho. Namun dia tidak menyerah.

Inilah keunggulan dari Novel yang ditulis Aguk irawan MN, walaupun tidak banyak membicarakan soal cinta, tapi pendeskripsian perasaan ridho sungguh benar-benar mampu mewakili apa yang hendak disampaikan penulis dalam novelnya itu. Dan lagi dalam Novel ini banyak ditemukan nilai-nilai spiritual yang dengan gamblang bisa dibaca pada setiap penggalan dialog antara Ridho dan Mursyidnya. Perjalanan Ridho dalam mencari kebenaran memang sungguh luar biasa. Karena dari situlah akhirnya Ridho mulai bisa mempelajari kehidupan yang bersifat spiritual kedalam dunia yang faktual.

Dalam kisahnya Ridho sebenarnya sudah bangkit dari nuansa utophia cinta, bahkan dalam memaknai cinta (mahabbah) yang berasal dari hibbah (yang tumbuh), dan dirinya telah mampu menumbuhkan hibb (benih-benih) menjadi kecambah yang bisa dijual. Semakin hari usahanya semakin besar dan terkenal dikalangan mahasiswa Asia tenggara dengan sebutan ‘nabat ful magnum li intag’ (tanaman kedelai produksi si majnun). Karena kawan-kawannya di Cairo sudah menganggapnya gila.

Novel ini dikemas dengan bahasa dan klimaks yang lebih ringan namun tetap mewakili perasaan hingga menitikan air mata ketika membacanya. Banyak kutipan-kutipan puisi klasik jalaludin rummi, fakhrudin ‘iraqi, William sakesphare, WS rendra, dan dari kisah-kisahnya yang juga diilhami dari novel sang alchemist karya Paulo celho. Banyak pesan-pesan moral yang tersirat tentang bagaimana seorang pencinta itu seharusnya mencintai.

Namun dari segi penulisan mungkin novel ini harus lebih banyak dibenahi, tidak tanggung-tanggung dari 21 bab yang terdiri dari 392 halaman terdapat lebih dari 37 kesalahan penulisan/ ejaan dan 15 bahasa yang tidak baku dan kurang tepat. Bahkan nama sahabat ridho “irwan” pada bab ke-3 berubah menjadi irawan dan pada bab ke-4 kembali lagi menjadi irwan kemudian di bab-bab akhir namanya sering berganti-ganti antara irwan dan irawan, nama lengkap afandi irwan pada hal.56 berubah menjadi irwan afandi. Dan lagi nama orangtua ridho sutriman berubah menjadi sutarmin (hal.92) dan berubah menjadi sutirman (pada hal.98). 

Pembaca juga akan menemukan sambungan cerita yang ganjil, pada bab ke-5 “menjadi sopir kedutaan besar RI” yang berisi tentang flash back sejarah pribadi ridho beserta tempat kelahirannya sampai cerita keberangkatannya ke mesir hingga dia akhirnya bekerja sebagai sopir di kedutaan besar RI. Dan jika ditarik alur dari awal ridho melamun di mobil Mercedes bens milik diplomat hingga selesai, lalu di awal bab selanjutnya terjadi kisah lain yang serupa yaitu ridho melamun dan irwan mengejutkannya dari belakang, jika di sambungkan hal ini memang tidak sinkron namun seperti memiliki kesinambungan yang membuat pembaca agak bingung.

Demi kesempurnaan novel ini, Edisi revisi adalah solusi yang tepat, mengingat novel ini sangat unik dan menarik. Menggambarkan cerita yang benar-benar pernah terjadi, dan bahkan pada akhir ceritanya kasus serupa masih banyak terjadi di indonesia. Sebenarnya adakah rasa kemanusiaan dihati mereka? Saya berkali-kali dibuat menangis ketika membacanya. Karena banyak perjalanan cintanya yang mewakili apa yang pernah saya dan orang-orang rasakan, cinta yang begitu besar dan kenyataan yang tidak berpihak kepada kita.

Dan di penghujung perjalanannya, Novel ini memiliki sentuhan akhir yang sangat menyentuh hati. Walau tidak berakhir bahagia, tetapi juga tidak berakhir dalam kesedihan. Bahasa jiwanya mampu membuat pembaca terenyuh berfikir jauh mengenai apa yang telah berlalu dan menjadi rahasia dibalik tabir sebagai akhir dari “legenda pribadi”. Inilah sebuah novel sufistik yang harus dimiliki oleh setiap penikmat karya sastra.

Choirul Anam
Yogyakarta, 24 desember 2013


informasi buku online bisa di dapatkan di sini atau di sebelah sini atau di sini juga bisa.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Sohibul Bait

Choirul Anam

"Selalu berusaha untuk lebih baik tanpa menyakiti orang lain" Silaturahim?

Jendela Sosial

  • Intagram
  • Twitter
  • Facebook

Etalase

  • Cerpen (3)
  • Esai (1)
  • Puisi (3)
  • Resensi (2)

Jamuan Terbaik

Seekor Kucing Yang Mati Tertabrak Mobil

Album

  • ▼  2018 (7)
    • ▼  Maret (7)
      • Desa Tempat Kita Kembali
      • Reuni di Rumah Duka
      • Buku Tua
      • Surat dari Bunga Matahari
      • Mengungkap Sisi Lain Sosok Yang Tidak Menikah
      • Tebu dan Makam di Tengah Sawah
      • Seekor Kucing Yang Mati Tertabrak Mobil
  • ►  2015 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  Desember (1)

Warung Pojok

Penerbit dan Toko Buku Penerbit dan Toko Buku

Created with by ThemeXpose